Mata Biru

Banyak yang menyangka jika orang Indonesia bermata biru adalah keturunan bangsa Eropa. Sebenarnya tidak demikian, mereka adalah orang Indonesia asli. Cerita yang banyak terdengar di beberapa daerah ini, sengaja dibuat untuk menjawab ketidaktahuan atas apa yang terjadi. Tidak ada satupun bukti otentik yang menunjukkan mereka adalah keturunan Eropa.

Aku sudah memotret dan mewawancarai 29 orang bermata biru dari berbagai daerah di Indonesia. Di antaranya Buton, Jakarta, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Pertama kali aku mengetahui tentang orang bermata biru yang bukan asal Eropa ini adalah di Vietnam. Saat itu aku sedang mempersiapkan trip foto ke Vietnam dan mencari obyek apa saja yang akan dimasukkan ke dalam daftar destinasi. Setelah browsing, aku menemukan sebuah postingan blog dari fotografer Perancis bernama Reyhan yang tinggal di Hoi An, Vietnam. Di postingan itu dia memotret dan bercerita tentang kakak beradik bermata biru An Phuoc dan Sapa dari daerah Phan Rang. Aku mencari tahu keberadaan mereka sampai akhirnya bisa memotret. Salah satu foto kuambil tahun 2019 lalu bahkan memenangkan kontes foto internasional (HIPA) sebagai pemenang ke-2 di kategori General-Colour.

Aku berusaha mencari tahu apakah di Indonesia juga ada orang bermata biru seperti yang kutemukan di Vietnam. Akhirnya aku mendapatkan informasi tentang keberadaan mereka di Buton, Sulawesi Tenggara. Karena Indonesia sedang dilanda pandemi Covid, baru pada akhir Agustus 2020 aku bisa datang ke Buton untuk memotret mereka. Selanjutnya aku mencari lagi apakah di daerah lain di Indonesia juga ada. Semula aku mengira hanya di Butonlah mereka ada. Tetapi ternyata di Sumatera Barat, yang kebetulan adalah kampung halamanku, paling banyak orang Indonesia bermata biru berada. Mereka berasal dari suku Minangkabau asli. Hingga saat ini, di Sumatera Barat saja aku sudah memotret 19 orang, sementara yang tercatat berdasarkan informasi yang kuterima lebih dari 50 orang. Dugaanku jumlah mereka jauh lebih banyak, namun berapa pastinya masih sulit dihitung karena belum adanya catatan resmi.

Fardan dari Buton:

Kenapa Mata Mereka Berwarna Biru?
Seperti yang kukatakan di awal, pada mulanya mereka disangka sebagai keturunan bangsa Eropa. Bahkan Reyhan juga mengarang cerita bahwa An Phuoc dan Sapa memiliki darah Perancis sebagai penyebab mata biru keduanya (mungkin karena Perancis pernah menjajah Vietnam). Ini sebenarnya wajar karena Indonesia lama dijajah oleh Belanda, sebelumnya bangsa Portugis juga mondar-mandir di Indonesia. Bahwa cerita itu dibuat hanyalah karena mereka sendiri tidak memahami apa yang terjadi. Berdasarkan literatur yang ada, sebenarnya mereka mengalami kelainan berupa penyimpangan genetika. Pertama kali diformulasikan oleh ophthalmologist/geneticist Jerman Petrus Johannes Waardenburg. Penyimpangan genetika ini juga dialami oleh orang Eropa sekalipun dan etnis lain. Lebih lengkapnya bisa dilihat di Waardenburg Syndrome

3 generasi dari Sumatera Barat:

Adapun ciri-ciri mereka adalah: Kedua mata berwarna biru atau sebelah mata berwarna biru dan sebelah berwarna coklat (heterochromia iridis), raut wajah mirip dengan alis umumnya tebal, kulit bercak-bercak, sebagian rambut memutih seperti uban. Tetapi satu hal yang mungkin dialami adalah gangguan pendengaran. Dalam temuanku memang sebagian dari mereka menjadi tuna rungu. Tidak satupun yang mengalami gangguan pada penglihatan karena warna mata mereka. Juga tidak satupun di antara mereka yang tingkat kecerdasannya di bawah rata-rata, bahkan mereka tergolong orang-orang yang cerdas.

Kebanyakan setelah melahirkan, mereka memeriksakan kondisi anak mereka ke dokter umum atau mata. Dokter mengatakan normal, karena memang penglihatan tidak terganggu selain warna mata yang berbeda. Tidak satupun yang menyadari bahwa fungsi pendengaranlah yang harus diwaspadai, sehingga luput dari perhatian. Ketika anak sudah agak besar, mereka baru memeriksakan ke dokter THT dan di sanalah baru ketahuan bahwa alat pendengaran yang terganggu. Sebenarnya hal itu masih bisa ditolong dengan operasi, namun karena sebagian besar adalah masyarakat kurang mampu maka mereka hanya bisa pasrah. Setidaknya ini kutemukan di 2 keluarga di Sumatera Barat. Bahkan di daerah Sumatera Utara semua anggota keluarga yang berjumlah 6 orang jadi tuna rungu.

1 keluarga dari Sumatera Utara:

Aku masih akan terus memotret yang lainnya untuk menerbitkan sebuah buku fotografi tentang orang Indonesia bermata biru. Harapanku tentunya buku tersebut akan sangat berguna untuk bahan penelitian bagi para dokter agar bisa mengatasi kelemahan utama yaitu kerusakan/kehilangan fungsi pendengaran. Penderita Waardenburg Syndrome ditemukan 1 di antara 42.000 populasi. Jumlah penderita Waardenburg Syndrome ini akan segera melonjak drastis karena kelainan genetika ini sifatnya menurun.

Foto-Foto lain bisa dilihat di akun Instagramku



Leave a Reply

%d bloggers like this: